Rabu, 07 September 2011

Domba Texel

TEXEL DOMBA BONGSOR(DOMBOS)
DARI WONOSOBO

Oleh Drs.M.Basri Yusuf

Hampi 80% populasi domba di negeri Belanda adalah texel, domba ini merupakan salah satu dari hanya beberapa jenis domba pedaging unggul yang sekaligus penghasil wool kualitas terbaik. Pertumbuhan yang sangat bagus yang mencapai 250 - 300 gr perhari menjadikan texel sebagai pilihan untuk domba pedaging yang harus dipertimbangkan.
Doba Texeldapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih tebal, berkaki sedang, berhidung cembung, bertelinga tidak begitu panjang, bulu dikepala sama dengan bulu di badannya.
Di Indonesia Texel dikenal pada awalnya sebagai domba klowoh karena domba ini pada awalnya berkembang dengan baik di dusun Klowoh Desa Kwadungan Kecamatan Kalikajar Wonosonbo Jawa Tengah. Pada tahun 2008 Presiden SBY memberi nama domba ini dengan nama Dombos (Domba Bongsor)
Domba Texel ini didatangkan ke Indonesia dari negeri Belanda pada tahun 1954 sebanyak 500 ekor, namun awalnya perkembangannya kurang bagus, malah dari 500 ekor tahun 1957 tinggal hanya tingga 5 ekor saja di Baturaden (Purwokerto) oleh Dinas Peternakan Propinsi Jawa Tengah dipindahkan ke Tambi dan Tieng di Kecamatan Kalikajar. Yang kemudian keturunan dari Tieng inilah dibeli oleh Senorejo dari Dusun Klowoh, di dusun inilah domba texel berkembang dengan baik dan banyak dipelihara oleh masyarakat setempat . Saat ini domba texel atau dombos telah berkembang dengan populasi mencapai 8000 ekor, masih sangat sedikit popuilasinya.
KARAKTERISTIK DOMBA TEXEL(DOMBOS)
Texel jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Texel dapat hidup dan berkembang dengan baik di datran tinggi 700 - 1`200 meter dari permukaan laut. dengan ciri sebagai berikut;
  1. Bulu putih keriting, halus dan berbentuk spiral.Kulit di bawah bulu warna merah muda agak keputihan.
  2. Kepala panjang, bila dilihat dari samping kepala nampak agak lebatr dengan tulang hidung agak cembung. Dilihat dari depan kepala agak pipih dengan tulang mata menonjol.
  3. Telinga agak kecil, pendek dan mengarah kesamping.
  4. Domba jantan dan betina tidak bertanduk.
  5. Keempat kaki tidak diselimuti bulu wool.
  6. Domba jantan berumur 1,5 - 2 tahun memiliki lingkar dada sepanjang 105 cm, panmjang badan 70 cm, tinggi badan 80 cm, dan bobot tubuh 80 - 120 kg, Texel betina dewasa umur 1,5- 2 tahun memiliki lingkar dada 85 cm, panjang badan 60 cm, tinggi badan 80 cm dan bobot 60 - 75 Kg.
  7. Pada usia 5 bulan bobot anak texel jantan mencapai 40 kg dan betina 30 kg.
  8. Domba texel dapat melahirkan 3 kali dalam setiap 2 tahun.
Domba texel jantan dapat menjadi hewan yang jinak, terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan tumbuh dengan berat badan 120 - 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun).
Texel jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 - 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 - 3 tahun) dapat melayani 30 - 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat mengawini hingga selama 7 - 8 tahun.
PERKAWINAN SILANG DENGAN DOMBA LOKAL
Domba lokal yang dipelihara di Indonesia berasal dari berbagai varietas Domba jenis pedaging. Jika Texel jantan dikawinkan dengan domba lokal seperti domba garut, baik secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1) yang memiliki 50% Dorper sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari texel sebagai domba pedaging yang memiliki kemampuan tumbuh dengan ADG yang tinggi, dan dari domba garut yang cendrung beranak lebih dari satubisa cepat menghasilkan domba silangan yang seragam, seperti juga ga dan dapat tumbuh dan berkembang biak di dataran rendah, hasil silangan jantan dapat mencapai berat dipasarkan 35 - 45 kg dalam waktu tujuh sampai aepuluh bulan, dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih banyak dari yang dihasilkan anak domba lokal dengan umur yang sama.
"Industri Domba Pedaging Indonesia memiliki masa depan yang positif dan cerah. Dengan pengenalan Domba ke Indonesia, hal ini berarti peternak sekarang dapat menghasilkan ternak pedaging kualitas teratas dalam waktu lebih singkat dengan jumlah daging lebih banyak. Pangsa pasar untuk daging domba, baik pasar lokal atau internasional terbuka sangat lebar."
Baca Selanjutnya......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Menyampaikan Komentar Anda